Bahasamu, Cermin Jati Dirimu (Oleh: Yanda Bambang Pramono)

1 Jun

Bahasamu, Cermin Jati Dirimu (Oleh: Yanda Bambang Pramono)

Seseorang hidup dengan “Bahasa”, entah seperti apapun keadaannya dan bagaimanapun caranya. Bahasa yang dimaksud adalah dalam konteks luas, yaitu bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahasa tubuh (isyarat). Hal itu, digunakan seseorang untuk berkomunikasi antarsesama dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam berkomunikasi inilah, selain dapat memenuhi kebutuhannya, seseorang seringkali mendapatkan permasalahan dengan sesamanya. Peristiwa yang biasa terjadi akibat komunikasi yang tidak baik yaitu adu mulut atau berdebat, sehingga menyebabkan adanya pihak yang tersinggung, perkelahian, dan seterusnya. Salah satu penyebab hal tersebut dapat terjadi adalah tidak diterapkannya kesantunan berbahasa.

Kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi dapat diterapkan dengan memperlihatkan kesadaran untuk menjunjung tinggi martabat lawan tutur dalam berbahasa, baik saat menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tulis. Kesadaran menjunjung tinggi martabat orang lain artinya tidak menganggap remeh dan menunjukkan rasa hormat kepada lawan tutur. Kesadaran ini perlu dimiliki setiap orang, tak terkecuali para pemuda yang mewarisi  adat ketimuran

Adat ketimuran, atau biasa disebut budaya ketimuran adalah penyebutan untuk sikap yang selalu ditunjukkan masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang yang selalu menjunjung tinggi nilai dan norma. Dari segi Bahasa yang digunakan, nilai kesopanan dan kesantunan berbahasa diterapkan dengan tutur kata yang lemah lembut serta memperhatikan kedudukan lawan tutur. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang penduduknya dikenal ramah tamah di mata dunia.

Dahulu, kesantunan berbahasa selalu menjadi pedoman di berbagai lapisan masyarakat. Ada sebuah kutipan pepatah Jawa yang berbunyi “Ajining diri gumantung saka ing lathi” yang artinya, harga diri seseorang tergantung pada lisannya. Pepatah tersebut mengajarkan bahwa menjaga lisan sama halnya dengan menjaga harga diri. Jadi, jika seseorang ingin dianggap bernilai di masyarakat, serta tidak dianggap rendah, maka ia harus menjaga ucapannya dengan menerapkan kesantunan berbahasa.

Bahkan, kesantunan (unggah-ungguh) dalam Bahasa Jawa ada empat macam tingkatan Bahasa yang sering kita dengar, yaitu ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus. Masing-masing dari keempat tingkatan tersebut penggunaannya ditentukan berdasarkan kepada siapa kita akan berkomunikasi (lawan tutur). Misalnya, kita menggunakan krama alus ketika berbicara dengan orang tua kita. Hal tersebut membuktikan bahwa Bahasa Jawa mengajarkan sikap santun kepada penggunanya.

Begitu pula kesantunan berbahasa dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia yang santun dapat dilihat dari pemilihan kata (diksi) dan intonasi yang baik saat berkomunikasi. Penggunaan diksi dan intonasi yang tepat membuat lawan tutur menjadi semakin nyaman saat berkomunikasi. Jadi, agar sesorang dapat menerapkan kesantunan berbahasa dalam Bahasa Indonesia, maka ia harus memiliki penguasaan diksi yang cukup dan mampu menggunakan intonasi dengan tepat.

Kesantunan berbahasa dalam Bahasa Indonesia yang lebih kompleks dipelajari dalam salah satu cabang ilmu linguistik, yaitu Pragmatik. Pragmatik dalam bentuk kesantunan berbahasa berkaitan dengan cara atau gaya bahasa. Rahardi (2005:49) mengatakan bahwa pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang mewadahi dan melatarbelakanginya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pragmatik mempelajari makna penggunaan bahasa terkait konteks tuturan.

Searle mengklasifikasikan tindak tutur ke dalam tiga jenis tindakan, yaitu: tindak lokusi (Locutionary act), tindak ilokusi (Ilocutionary act), dan tindak perlokusi (Perlocutionary act).

  1. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Contohnya:

(1)  Ayam adalah binatang bertelur

(2) Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh mengadakan Seminar Nasional Bulan Bahasa. Tampil sebagai pembicara dalam acara tersebut R. Hendaryan, Drs., M.M. dan Teti Gumiati, Dra., M.Pd. Sebagai pesertanya yaitu mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tuturan pada kalimat (1) diutarakan untuk menginformasikan sesuatu tanpa bermaksud melakukan sesuatu. Sedangkan tuturan pada kalimat (2) dimaksudkan untuk menginformasikan sesuatu yang akan dilakukan.

  1. Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang selain menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Contohnya :
  • Rambutmu sudah bau

Kalimat tersebut bila diucapkan oleh seorang ibu kepada anaknya dimaksudkan untuk menyuruh atau memerintah agar anaknya keramas.

  1. Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur. Contohnya:
  • Hari ini saya sangat sibuk

Kalimat tersebut bila diutarakan kepada orang yang mengajaknya pergi, berfungsi sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menemaninya pergi dan efek yang diharapkan oleh penutur adalah agar orang yang mengajaknya dapat memakluminya. 

(Sumber:https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/literasi/article/view/9/67#:~:text=Kesantunan%20berbahasa%20merupakan%20tatacara%20berprilaku,mendengarkan%20hal%20yang%20disampaikan%20penutur)

Berkomunikasi merupakan suatu aktivitas sosial. Selain dari faktor pengetahuan dan pengalaman seseorang, kesantunan berbahasa juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan yang baik akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang santun dalam bertutur kata. Lingkungan yang baik akan membentuk pembiasaan yang baik pula. Sehingga, semakin lama pembiasaan yang baik itu dilakukan, maka akan terbentuk suatu karakter santun di dalam diri seseorang.

Penggunaan kesantunan berbahasa Indonesia terdapat perbedaan jika kita mengamatinya di tempat yang baik, kurang baik, dan tidak baik. Bahasa yang digunakan di sekolah, kampus, dan masjid pasti berbeda dengan yang digunakan di tempat perjudian dan diskotik. Beberapa perbedaan yang tampak jelas di antaranya terlihat dari penggunaan kosakata dan nada bicaranya. Pasti kita akan mendapati bahwa kesantunan berbahasa digunakan di lingkungan yang baik, seperti di sekolah, kampus, dan masjid.

Tidak hanya di dunia nyata, hal ini juga berlaku di dunia maya seperti di radio, televisi, youtube, facebook, instagram, twitter, dan seterusnya. Bahkan, beberapa aplikasi di dunia maya kurang ketat dalam menyaring kata-kata yang tidak baik dan kasar. Padahal, aplikasi tersebut dapat diakses oleh berbagai kalangan usia. Ini sangat berbahaya jika hal itu membawa pengaruh buruk bagi generasi muda kita.

Oleh karena itu, kesantunan berbahasa perlu dibiasakan sejak usia dini agar kesadaran ini dapat menjadi karakter yang tertanam. Cara tersebut dimulai dari lingkungan keluarga tempat seseorang tumbuh dan berkembang, kemudian dilanjutkan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Dalam proses itu, perlu seseorang yang berperan sebagai pemantau/penegak kedisiplinan kesantunan berbahasa. 

Pemantau atau penegak kedisplinan berbahasa dapat dilakukan oleh siapapun dan kapanpun. Peran dari pemantau atau penegak kedisiplinan berbahasa ini adalah mengingatkan, membimbing, mengarahkan, dan menegur seseorang jika seseorang melanggar kesantunan berbahasa. Semakin banyak orang yang mengambil peran ini, maka akan semakin baik dan kita dapat lebih dekat menuju tujuan, yaitu karakter santun berbahasa dalam diri seseorang.

Bahasa menunjukkan Bangsa. Sebuah peribahasa klasik yang bermakna bahwa budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang. Dengan kata lain, baik buruk kelakuan seseorang dapat kita lihat dari tutur kata atau penggunaan bahasanya. 

Jadi, bahasamu adalah dirimu. Jati dirimu tercermin dalam kesantunan berbahasa yang kamu terapkan. Sehingga, ayo mulai berubah menjadi baik dengan cara memperhatikan dan menerapkan kesantunan berbahasa ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

÷ 2 = 1