Mata Air di Padang Pasir Tandus dalam Pembelajaran di Bidang Kimia (Oleh: Yanda Hadi Kurnianto)

23 Des

Mata Air di Padang Pasir Tandus dalam Pembelajaran di Bidang Kimia (Oleh: Yanda Hadi Kurnianto)

SOLIAzigna, 22 Desember 2021. Kala itu ruangan tampak terang dengan suara sayup-sayup Blower dan udara terasa sejuk. Sejenak aku termenung dan terlintas dalam benak pikir, setelah mengikuti pelatihan FGD (Focus Group Discussion). Rasa-rasanya ada yang kurang dalam cara belajar kimia yang saya terapkan dengan peserta didik. Bahkan sekedar opini liar yang muncul mungkin banyak juga guru-guru kimia lain yang sama dengan saya. 

Dalam sayup-sayup suasana hening, saya mencoba merefleksi apa yang telah disampaikan oleh Gurunda H. Sya’roni Kariem S.Pd.I., M.Pd.  Kemudian saya menarik benang merah terkait esensi pendidikan dengan merujuk pada petuah dari salah satu ulama besar yaitu Imam Al-Ghazali yaitu “manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selanjutnya dapat membawanya untuk dekat kepada Allah dan akhirnya membahagiakannya hidup di dunia dan di akhirat” .

Paradigma pendidikan oleh Imam Al-Ghazali tersebut nampak seperti mata air ditengah padang pasir yang sangat tandus. Sebagaimana di abad 21 ini kita seringkali melihat kemerosotan moral yang terjadi baik di generasi muda, generasi tua, generasi anak-anak. Penyimpangan perilaku di lingkungan masyarakat semakin masif dan terekspos di media sosial dengan begitu cepat dalam spektrum yang luas. Terbesit dalam sanubari saya sebuah pertanyaan yang menurut saya sangat krusial yaitu “sebenarnya apa yang salah dalam pendidikan yang kita selenggarakan atau yang kita terapkan sehingga masih menghasilkan generasi-generasi yang jauh dari berakhlak mulia?”. Ya… tentu ini kita tidak semerta-merta menyalahkan pendidikan anak di lingkungan keluarga. Dalam keheningan itu saya mencoba lebih dalam memasuki ranah yang lebih pribadi. Pada titik tertentu, saya mendapatkan sebuah jawaban atas kebimbangan tersebut dan kebimbangan saya di awal-awal yaitu… “Oh ya, saya mengakui saya belum sepenuhnya menerapkan dengan baik konsep pendidikan yang Imam Al-Ghazali sampaikan yaitu membimbing anak-anak dalam mencari ilmu dan mengamalkan fadhilah ilmu tersebut, sehingga dari fadhilah tersebut selanjutnya akan menstruktur jiwa spiritual anak dan membimbingnya untuk semakin dekat dengan Allah”. 

Karena tidak mungkin, seorang hamba yang kaya ilmu dan dekat dengan Allah memiliki akhlak yang tercela. Tidak mungkin orang yang punya fadhilah fadhilah akan ilmunya berperilaku yang menyimpang di masyarakat. Saya yakin, orang yang berilmu dan punya fadhilah akan ilmunya dan dekat dengan Allah pasti akan menjadi teladan secara alamiah. Oleh karena itu saya menarik benang merah bahwa spiritualitas dalam pendidikan khususnya bagi saya seorang guru kimia, harus diterapkan secara kaffah di semua ruang lingkup pembelajaran kimia.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 9 =