CERMIN

16 Okt

CERMIN

“Rasya… Maafkan Mama dan Papa ya.

Maaf… Mama dan Papa tidak bisa bersama lagi.

Sayang… kamu sudah dewasa sekarang, kamu bisa memilih dengan siapa.

Keputusan ada di…tut... tut... tut.

Kututup telpon mama yang belum terselesaikan. Perlahan kuremas kertas bertuliskan surat cerai yang ada di tangan kiriku, pikiranku sangatlah kacau sekarang, kutinggalkan ruang keluarga dan berlari menuju kamarku. Kututup dan kukunci pintuku rapat-rapat. Amarahku tak dapat kupendam lagi.

PRAANG!” ku lempar vas bungaku ke cermin di hadapanku, tiba-tiba lututku rasanya lemas. “BRUK!”, aku jatuh terduduk di hadapan pecahan cerminku. Terngiang kata Mama di kepalaku. Mataku berlinang menatap empat pecahan cerminku. Tangisku pun pecah melihat pecahan cerminku, seolah-olah pecahan itu menggambarkan harapan dan kepercayaanku yang hancur begitu saja.

“Bagaimana bisa?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

 

Kuambil pecahan cermin yang pertama, lalu kutatap pantulan wajahku di pecahan cermin ini. “Kurasa ini kesalahanku. Ya, ini memang kesalahanku.”

Dengan cepat aku menolak kata yang keluar dari mulutku itu. “Di mana yang menunjukan kesalahanmu Rasya? Ingat-ingatlah, mereka bilang kau anak yang baik bukan? Kau selalu patuh pada mereka, kau turuti apa mau mereka, kau sangat menyayangi mereka berdua, kau bahkan selalu mendoakan untuk kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan untuk mereka. Apa itu masih belum cukup?”

Kuusap air mataku yang menetes sambil berkata “Tidak!! yang aku lakukan cukup, lebih dari cukup.” Kutaruh kembali pacahan cermin pertama.

Lalu kuambil pecahan cermin kedua, kutatap wajahku di pecahan cermin ini. “Apa yang aku lakukan sudah benar?” Kuyakinkan diriku.

“Kau selalu mencairkan suasana di kala mereka lelah. Kau dengar keluh kesah mereka tentang kekurangan masing-masing. Kau hibur mereka lalu kau ajak mereka makan bersama, pergi bersama, beribadah bersama. Aku melakukan ini semua karena aku berharap semua akan baik-baik saja. Layaknya kami keluarga yang sempurna, keluarga yang penuh kasih sayang. Bukankah yang kau lakukan sudah benar?” Air mataku menetes mengingat memori itu “Ya! yang kulakukan sudah benar, sangatlah benar!”.

 

Kutaruh kembali pecahan cermin kedua dan kuambil pecahan cermin ketiga. Kutatap wajahku di pecahan cermin ini.

“Apakah ini kesalahan mereka?”

 

Aku berpikir.

Ya! merekalah yang salah. Mereka sudah menyia-nyiakan apa yang selama ini kau lakukan untuk mereka. Di saat kau ingin menghibur mereka, mereka malah bilang ‘Maaf Rasya, nanti saja’. Di kala kau mendengar keluh kesah mereka, mereka malah mengatakan hal-hal yang membuatmu sedih. Mereka malah berteriak saling menyalahkan satu sama lain. Ketika kau mengajak mereka makan bersama, mereka malah bilang ‘Duluan saja, kami akan makan nanti’ atau ayah akan bilang ‘sudah makan’. Di kala kau mengajak mereka pergi bersama, mereka akan berkata ‘Maaf Rasya, kami sibuk’ atau mereka akan mengatakan pekerjaan mereka yang belum selesai dan mengatakan ‘Tolong mengertilah’. Di kala kau mengajak mereka untuk berpasrah diri dengan beribadah pada Tuhan, mereka akan menjawab ‘Ibadah merupakan kebutuhan masing-masing, kamu tidak perlu menunggu siapapun untuk ibadah. Segera lakukan tanpa menunggu kami’. Inikah yang disebut keluarga yang sempurna?”

 

Tangisku semakin menjadi ketika kuingat semua memori itu. “Mereka memang salah karena mereka telah merusak harapan dan kepercayaanku. Mereka bilang… mereka bahagia hidup bersama, mereka bilang… akan saling percaya, mereka bilang… mereka yakin, mereka bilang… kehadiranku membuat hidup mereka lebih lengkap. Aku sangat percaya dengan apa yang mereka katakan. Tapi, kenapa mereka sekarang tak bahagia hidup bersama? Mereka tak lagi saling percaya… mereka juga sudah merasa tak yakin lagi… bahkan kehadiranku sekarang tak dapat menguatkan mereka.”

 

Kuusap air mataku, lalu kutaruh kembali cermin ketiga ini. Aku duduk meringkuk lalu kuambil cermin keempat. Dengan kepala tertunduk, kutatap wajahku di pecahan cermin ini.

“Kepercayaanmu sama halnya dengan cerminmu yang telah pecah ini. Cerminmu yang pecah ini takkan bisa kembali seperti semula. Mungkin pecahan ini bisa utuh kembali, namun keadaan cerminmu tak akan kembali sempurna.” Air mataku menetes lagi.

 

“Padahal aku percaya akan masa depanku bersama mereka. Lalu bagaimana sekarang? Tanpa dukungan dari mereka berdua, masa depanku seperti tidak ada harapan lagi. Aku tak mungkin melakukan semua ini sendiri. Aku akan kesepian. Hari-hariku pasti akan terganggu dengan hal ini. Aku mungkin akan trauma, sehingga aku akan berperilaku seperti mereka atau bahkan lebih buruk. Hidupku akan terasa lebih sulit tanpa mereka. Mungkin aku mulai ragu dengan kebahagiaan, aku akan ragu dengan kepercayaan, dan selalu merasa tidak yakin.”

 

“Tuhan… kenapa ini harus terjadi padaku?” keluhku.

Kutundukkan kepalaku lagi dan aku menangis. Aku menangis sekeras-kerasnya, aku kesal, aku marah. Pecahan cermin keempatku masih kupegang. Di pecahan cermin keempat aku melihat pantulan pecahan cermin lain yang berada di belakangku. Langsung kutaruh pecahan cermin keempat kembali, kemudian kuusap air mataku sembari membalikkan badan ke pecahan cermin ini, pecahan cermin kelima.

Kuangkat pecahan cermin kelima ini, sekali lagi ku tatap wajahku. Namun, yang kulihat di pantulan pecahan cermin ini tidak hanya pantulan wajahku. Aku juga melihat pantulan empat pecahan cermin tadi. Aku sadar, tangis dan marahku tidak akan mengembalikan keutuhan mereka kembali.

“Rasya, apa yang kamu alami ini mungkin sangatlah berat. Tentu kamu boleh bersedih, tetapi janganlah kamu terlalu larut dalam kesedihanmu. Perceraian mereka jangan kau jadikan alasan yang membuatmu menjadi hilang harapan akan masa depanmu. Jangan sampai alasan itu membuat hidupmu menjadi terpuruk dan menjadi pribadi yang kurang baik. Itu adalah hidup mereka, bukan hidupmu. Kamu memiliki jalan kehidupan sendiri, semua orang juga memiliki jalan kehidupannya masing-masing. Tentu itu sudah takdir Tuhan, Rasya.”

“Kehidupanmu akan jadi baik atau tidak, itu semua tergantung kamu yang menjalani hidupmu.” Kutundukkan kepalaku untuk berpikir.

“Jika kamu ingin kehidupan yang lebih baik, maka bangkitlah. Kamu harus yakin bahwa kamu bisa melewati semua ini. Mulailah hidup baru dengan menjadi orang yang lebih baik. Jangan habiskan waktumu untuk menyalahkan mereka. Belajarlah dari kesalahan yang telah mereka lakukan, lalu jangan sampai kau ulangi. Ingat, dalam keadaan apapun, walau terpisah dengan mereka, kau tetaplah putrinya. Maka, tetap berbakti pada keduanya karena mereka adalah orang tua yang telah membesarkanmu selama ini. Mereka berhak bahagia dengan pilihannya, sehingga kamu harus menghormati itu. Yang paling penting adalah percaya pada dirimu sendiri. Bagaimana kamu ingin memiliki masa depan yang cerah, kalau kamu tidak percaya pada dirimu sendiri?” Kuangkat kepalaku menatap cermin kelima ini.

 

Kurasa itu benar, saat ini aku harus introspeksi diri dan bukan menghakimi. Kutarik napas dalam-dalam untuk meyakinkan diriku. “Percaya pada diri sendiri itu sangatlah penting. Kepercayaan pada diri sendiri diibaratkan seperti kita menanam. Apabila kita menanam bibit yang baik, maka kita akan mendapat hasil yang baik pula. Jika kamu menanamkan kepercayaan diri yang baik pada dirimu, kamu akan mendapat hasil yang baik pula.”

Aku terdiam, lalu kutaruh kembali pecahan cermin kelimaku.

“Kuatkan aku, Tuhan” Segera aku berdiri dengan yakin. Kemudian kubersihkan semua kekacauan ini.

Hatiku terketuk untuk berpasrah diri pada Tuhan. Aku percaya bahwa aku mampu untuk melewati semua cobaan yang diberikan Tuhan, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Sekarang aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan.

-Shakilla Gema Asmaul Husna (Angkatan 2018)

*) Dalam 40 Karya Terbaik Cerpen MAPK Fair 2019, MAN 1 Surakarta.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × = 6