Errant Child Change

18 Okt

Errant Child Change

Aku adalah orang yang dulunya suka sekali dengan main game. Berhari-hari, aku habiskan waktu dengan bermain game. Sampai orang tuaku pusing dan menggeleng-geleng. Dulu, aku tidak suka belajar sama sekali. Aku sangatlah bodo amat dengan namanya PR, ulangan, maupun remedi. Apakah aku juga peduli dengan nilaiku yang kian hari terus menurun walaupun hanya sampai 50? Tidak. Aku sama sekali tidak peduli.

Namaku asliku adalah Chaha. Aku terkenal sekali waktu SMP-SMA. Kalian tahu, aku dikenal sebagai apa? Aku dikenal sebagai anak bandel dan susah diatur.

Suatu ketika, salah seorang temanku yang bernama Wisnu, sampai jengkel melihat tingkah lakuku saat di SMA. Jengkelnya kenapa? Karena aku yang susah diatur.

Ia pernah menyuruhku untuk piket kelas, belajar lebih giat.

Aku peduli?

Enggak…

Detik-detik menjelang PTS Semester 6, ada seseorang yang telah mengubah diriku menjadi anak yang sangat penurut, walaupun terkadang aku masih agak sedikit bandel.

Ia adalah Esa. Dia adalah sahabat terhebatku sepanjang sejarah hidupku. Aku belajar dari pengalamannya dengan teman-temannya.

Aku tahu Esa pintar, tetapi aku tak ingin kalah darinya.

Sekarang, aku mulai mengabaikan semua game. Walaupun setiap hari selalu ada notifikasi yang masuk.

Saat notifikasi game masuk, jiwaku sempat tergetarkan dan mulai goyang. Tetapi aku sudah berniat untuk tidak main game terus menerus lagi.

Orang tuaku kaget melihatku berubah sangat drastis. Padahal, aku sempat mau dimasukkan ke Pesantren Asrama.

Orang tuaku sudah lega saat mengetahui bahwa aku telah berubah.

Saat penerimaan rapor. Orang tuaku dikejutkan oleh nilaiku yang sekarang meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Orang tuaku sangat bahagia. Aku masuk ke dalam peringkat 9. Akhirnya, setelah lulus aku bisa masuk daftar jalur SNMPTN atau jalur undangan. Padahal, aku dulu peringkat 102 dari seluruh siswa di sekolah.

Jerit payah yang keras sungguh tak akan berkhianat. Tak cuma jerit payah doang yang diandalkan, tetapi juga doa dari orang tua, saudara, dll.

Dua tahun kemudian, aku mendaftar di Woolim Entertainment. Dan aku diterima berkat nilai rapor yang kudapatkan. Tentu saja rapor kuliah, bukan lagi rapor SMA. Di Woolim Entertainment, aku bekerja. Jadi, aku sekarang bekerja sambil lanjut kuliah lagi.

 

-Gayatri Tarina Ratna Dewani (Angkatan 2019)

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 1 =