Menilik Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Matematika di SMA (Oleh: Bunda Dewi Nur Cahaningsih)

25 Des

Menilik Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Matematika di SMA (Oleh: Bunda Dewi Nur Cahaningsih)

Menilik Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Matematika di SMA

 Pendidikan matematika di sekolah bertujuan untuk mengembangkan penalaran siswa, sehingga siswa dapat menjadi pribadi yang terlatih cara berpikirnya, konsisten, aktif, kreatif, mandiri, dan memiliki kemampuan penyelesaian masalah, yang sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah perlu mendapat perhatian dan penanganan yang sangat serius dari seluruh pemangku kepentingan, terutama guru sebagai ujung tombak dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran matematika di kelas.

Santoso dalam Hidayatullah (2010:20) mengemukakan bahwa tujuan tiap pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya mereka kelak dapat bertahan dalam masyarakat. Selanjutnya Mahatma Gandhi mengatakan ada tujuh dosa besar di dunia, sebagai berikut: Kaya tanpa kerja (Wealth without work), Kesenangan tanpa kata atau suara hati, (Pleasure without conscience), Pengetahuan tanpa karakter (Knowledge without character), Perdagangan tanpa moral (Commerce without morality), Ilmu tanpa kemanusiaan (Science without humanity), Ibadah tanpa pengorbanan (Worship without sacrifice), Politik tanpa prinsip (Politic without principle) (Hidayatullah 2010:11). Hal tersebut apabila diterapakan dalam proses belajar matematika maka akan menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. 

Salah satu tujuan mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa mampu memecahkan masalah meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh (Depdiknas, 2006). Selanjutnya, Soejadi (2000) menyatakan bahwa wujud dari mata pelajaran matematika di pendidikan dasar dan menengah adalah matematika sekolah. Matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagian-bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada kepentingan pendidikan dan kepentingan untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi di masa depan. Karena itu, mata pelajaran matematika yang diberikan di pendidikan dasar dan menengah juga dimaksudkan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kemampuan tersebut, merupakan kompetensi yang diperlukan oleh siswa agar memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Seiring dengan perkembangan psikologi kognitif, maka seharusnya berkembang pula cara guru dalam mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama dalam unsur kognitif. Menurut Romli (2012) saat ini guru dalam mengevaluasi pencapaian hasil belajar hanya memberikan penekanan pada tujuan kognitif tanpa memperhatikan dimensi proses kognitif, khususnya pengetahuan metakognitif. Akibatnya upaya untuk mengenalkan metakognitif jenis evaluation dalam menyelesaikan masalah matematika kepada siswa cenderung kurang diperhatikan. 

Dewasa ini, paradigma pembelajaran matematika telah berubah dari pembelajaran tradisional (transfer of knowledge) yang berpusat kepada guru menjadi paradigma baru yaitu pembelajaran inovatif (construction of knowledge) yang mengedepankan siswa sebagai pusat dari kegiatan pembelajaran. Paradigma baru ini menghargai betul perbedaan individu, bahwa di dalam satu kelas pasti terdapat perbedaan kemampuan matematika yang beragam, sehingga mengupayakan terbentuknya learning society dalam kegiatan pembelajaran untuk terjaminnya keterlaksanaan prinsip education for all, yang menjamin bahwa pendidikan itu adalah hak setiap orang, bukan hanya anak yang dianggap pandai matematika saja (Hisbullah dan Sajiman, 2019: 525). 

Terkait dengan kebermaknaan dalam belajar, melalui teori pembelajaran kontekstual, paradigma baru ini memfasilitasi siswa untuk mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam kehidupan sehari-hari. Paradigma baru dalam pembelajaran matematika menekankan pada pandangan bahwa siswa adalah manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan yang mereka miliki. Matematika adalah aktivitas yang kita lakukan sehari-hari yang mencakup pola, urutan, struktur atau bentuk-bentuk, dan relasi-relasi diantaranya. Materi dalam pembelajaran matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis, artinya topik matematika yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik berikutnya. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Di lain sisi, guru juga harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi akan ilmu yang diajarkannya di kelas. Guru sudah tidak boleh lagi merasa paling hebat di kelas dan siswa dianggap tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, guru menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut, diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat dan menerima pendapat orang lain, serta memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Pembelajaran Matematika di Indonesia harus berubah dari matematika formal yang merupakan transfer pengetahuan dari guru ke siswa menjadi matematika sekolah yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siswa untuk membentuk pengetahuan mereka sendiri. Pembelajaran yang dirancang oleh guru hendaknya mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa. Kesuksesan pengembangan potensi pada siswa dapat mengantarkan kesuksesan pada pembelajaran matematika. Tentu saja, guru dituntut untuk dapat menyelenggarakan kelas yang kondusif dan mendorong siswa berkembang dengan baik, dengan cara menggunakan metode-metode, pendekatan-pendekatan, atau model-model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma pembelajaran matematika inovatif yang berkembang saat ini.

 

Sumber:

http://journal2.um.ac.id/index.php/jkpm/article/download/3234/2186

Jurnal Kajian Pembelajaran Matematika VOLUME 2 NOMOR 1, APRIL 2018 https://ejournal.upi.edu/index.php/MetodikDidaktik/article/download/7681/4941 

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta

Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1, No. 2, Mei – Agustus 2015http://proceeding.unindra.ac.id/index.php/DPNPMunindra/article/download/3929/350 Pembelajaran Matematika Berbasis Taxnomi Pengetahuan

 

Hidayattullah, M.F. 2010. Pendidikan Karakter : Membangun Peradapan Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70 − 64 =